UT Bidik 10 Besar Nasional, Transparansi Jadi Senjata Utama Bangun Kepercayaan Publik

SURABAYA, 15 April 2026 — Di tengah derasnya arus informasi yang bergerak tanpa jeda, kepercayaan publik justru menjadi hal yang paling mahal. Universitas Terbuka (UT) membaca perubahan itu dengan serius: keterbukaan informasi tak lagi dipandang sebagai kewajiban administratif, melainkan fondasi untuk membangun institusi yang dipercaya masyarakat.

Pesan itu mengemuka dalam Rapat Tinjauan Manajemen (RTM) Universitas Terbuka yang digelar di Surabaya, Selasa (15/4/2026). Dalam forum tersebut, Kepala Pusat Komunikasi Publik dan Kerjasama UT, Ali Tarigan, memaparkan implementasi Keterbukaan Informasi Publik di lingkungan Universitas Terbuka sekaligus arah penguatannya ke depan.

“Publik butuh informasi. Pertanyaannya, apakah kita sudah siap?” begitu salah satu pesan utama yang disampaikan dalam presentasi tersebut. Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan makna besar: di era digital, masyarakat menuntut layanan yang cepat, jelas, dan terbuka.

UT datang dengan bekal yang solid. Pada 2024, UT meraih predikat Menuju Informatif dengan nilai 83,94. Setahun kemudian, capaian itu melonjak menjadi predikat Informatif dengan skor 96,43 dari Komisi Informasi Pusat Republik Indonesia. Kini, pada 2026, target yang dipasang lebih tinggi: masuk 10 besar nasional badan publik berpredikat informatif.

Lonjakan tersebut bukan sekadar angka. Ia menjadi penanda bahwa transformasi layanan informasi di UT berjalan nyata dan terukur.

Ali menjelaskan, keterbukaan informasi di perguruan tinggi hanya bisa tumbuh jika ditopang kepemimpinan yang kuat. Karena itu, UT mendorong penguatan kebijakan internal, peningkatan kapasitas SDM PPID, dukungan anggaran, pemanfaatan infrastruktur digital, pelayanan responsif, serta evaluasi berkelanjutan.

Dengan kata lain, transparansi bukan pekerjaan satu unit semata. Ia harus menjadi budaya bersama di seluruh organisasi.

Langkah konkret itu juga terlihat dari ragam kanal layanan informasi yang disiapkan UT. Masyarakat kini dapat mengakses informasi melalui portal PPID, website resmi UT pusat dan daerah, aplikasi PPID Mobile, front desk layanan, media sosial resmi, perpustakaan digital, hingga AI Chatbot.

Bagi calon mahasiswa yang tinggal jauh dari kota besar, pekerja yang hanya punya waktu di malam hari, atau orang tua yang ingin memastikan layanan pendidikan anaknya, akses informasi seperti ini menjadi sangat berarti. Mereka tak harus datang langsung hanya untuk bertanya hal mendasar.

Di sisi internal, keterbukaan informasi juga membawa dampak strategis. Mulai dari mempercepat pengambilan keputusan berbasis data, mengurangi potensi miskomunikasi dan sengketa informasi, hingga memperkuat tata kelola yang transparan dan akuntabel. Pada saat yang sama, citra UT sebagai kampus inklusif dan berdampak ikut menguat.

Nilai-nilai itu sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 9 mengenai Inovasi dan Infrastruktur, serta SDG 16 tentang institusi yang efektif, transparan, dan akuntabel.

Sebagai perguruan tinggi negeri yang sejak awal lahir untuk memperluas akses pendidikan, UT kini memperluas makna akses itu sendiri. Bukan hanya akses kuliah, tetapi juga akses terhadap informasi yang jujur, mudah, dan setara.

Karena pada akhirnya, masyarakat tak hanya mencari kampus yang besar. Mereka mencari kampus yang hadir saat dibutuhkan, menjawab saat ditanya, dan terbuka saat diuji. Dari Surabaya, Universitas Terbuka mengirim pesan jelas: masa depan pendidikan dibangun dengan kepercayaan, dan kepercayaan lahir dari transparansi.

Universitas Terbuka

Related Posts